Marhaban…Yaa..Ramadhan 1432H

Tiada terasa, tinggal berbilang hari, kita segera sampai dibulan Ramadhan.  Bulan istimewa nan penuh keberkahan yang senantiasa diagungkan dan disucikan oleh kaum muslimin diatas permukaan bumi ini, sebagai pertanda tunduk dan patuhnya kita dalam mengemban amanah diri dalam kapasitas kehambaan yang memang miliki satu tugas yaitu mengabdi kepada Allah Swt.

Angin Semilir yang menghatarkan kepada bulan kemuliaan semakin terasa menmbus pori-pori kita, Alam pun tampak berseri untuk segera menyambut kehadirannya. Ramadhan, bulan yang istimewa itu senantiasa menjadi bak kekasih bagi kita atau siapapun yang telah mengikrarkan diri dalam syahadat sebagai Muslim. Maka dari bibir-bibir ini pun terucap pelan sebuah kalimat penantian:

“ Marhaban ya Ramadhan, Marhaban ya Syahrus-Shiyam, Marhaban ya Syahrul Mubarak…

Bak kekasih yang dirindukan, selama sebelas bulan kita berpisah dengannya, maka ketika Ramadhan kini kian menjelang hati-hati kita pun menjadi berbunga-bunga, penuh harap cemas untuk segera berjumpa dengan Ramadhan, sang kekasih. Tak lama lagi berselang, Insya Allah, ketika semua diberi umur panjang dan diberi kesempatan oleh Allah Swt kita pun akan bersua dengannya untuk melepas kerinduan yang menggelayut dalam benak pikiran, sejak kita berpisah denga Ramadhan ditahun Yang silam.

Instrospeksi dan Retrospeksi

Apa yang menjadi keistimewaan dan keutamaan Ramadhan tentulah kita fahami bersama. Ramadhan itulah bulan bulan khusus yang menjadi ruang dan kesempatan bagi setiap muslim untuk melakukan introspeksi dan sekaligus rerospeksi diri.

Introspeksi untuk kita melihat kedalam pada hal-hal apa yang telah kita lakukan selama hari-hari yang telah kita lalui. Seberapa besarkah kita telah mewujudkan bukti kehambaan diri untuk menjadi insane pengabdi? Seberapa besar pulakah peran yang telah kita kerjakan dalam rangka mewujudkan tema-tema aamilush-shali-haat, yaitu beramal salih dalam kepentingan membangun kemaslahatan bersama dan sesama.

Retrospeksi untuk kita melihat jauh kebelakang, dari segala apa yang telah kita capai maupun apa yang menjadi wujud kegagalan kita dalam menapaki hidup dan kehidupan ini. Setiap manusia tentu saja tiada terlepas dari keberhasilan dan kegagalan. Dan itulah yang namanya dinamika kehidupan, dinamika yang berjalan dengan Sunnatullah.

Sukses dan gagal adalah bak dua sisi mata uang yang saling berkaitan, tergantung diri kita sendiri yang memaknakan dan menyikapinya. Gagal bukan berarti menjadi akhir dari segala-galanya untuk kemudian kita berputus asa, begitupan sukses atau berhasil tidak lalu menjadikan kita lupa diri, untuk kemudian berjalan dipermukaan bumi ini menjadi angkuh dan sombong.

Kaum Muslimin amat membenci untuk bersikap putus asa, lantaran menyesali nasib dan kehidupan yang menderanya, seakan rahmat Allah tak hadir pada dirinya. Dijelaskan dalam firmannya :

“…dan jangan kamu berputus asadari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari Allah swt, melainkan kaum kafir.”   ( QS Yusuf 87 ).

Begitupun saat kita beroleh keberhasilan dalam hidup, tidak lalu melupakan kita untuk senantiasa berada dalam hidup yang bersahaja dan tidak menganggap enteng orang lain, apalagi memandang dengan sebelah mata dan merendahkan. Tetaplah sederhana dan tidak berlaku tabzir dan kibir. Sebab ketika menjadi angkuh, tabzir, kibir, dan termasuk orang yang bodoh dalam pandanga Allah Swt, yakni dipersamakan dengan hewan keledai.

“ Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. “  ( QS-Lukman 19 ).

Tingkatkan Kualitas  Diri

Sukses dan gagal dalam hidup adalah menjadi ujian bagi tiap diri, yang sejatinya disikapi dengan cara pandang yang tasamuh (lapang dada), wajar, dan penuh kesyukuran. Itulah pula makna dari apa yang kita kenal sebagai “sabar” atau “kesabaran”,  Kendatipun secara fitrahnya kita dibekali oleh potensi kecemasan, berkeluh kesah, dan rasa takut, akan tetapi dengan bermodalkan kesabaran Insya Allah apa yang menjadi “ancaman”  ataupun  “kekhawatiran”  dalam hidup itu akan  dapat kita hadapi dengan baik dan benar, sehingga nilai dan kualitas keimanan kita tidak akan bergeser sedikitpun, lantaran terbangunnya jiwa yang tasamuh lagi sabar itu.

Bulan Ramadhan dengan momentum ibadah shaum/puasanya itulah yang menjadi medium bagi kita untuk menggembleng dan melatih diri, Kita dilatih untuk masuk dalam “ketiadaan” dan “ketidakpunyaan” yaitu dengan jalan menahan (puasa) dari makan dan minum atau mengosongkan perut disiang hari itu. Pada saat itulah segala hasrat dan keinginan yang bernuansa duniawiyah yang dimbolkan oleh makan dan minum itu ditahan, sebab makan dan minum adalah juga menjadi bagian terpenting dari hadirnya hawa nafsu.

Ramadhan hadir atau dihadirkan untuk kita para hamba berkesempatan untuk memperbaiki diri, Melatih agar terbiasa untuk mampu mengekang hasrat duniawiyah.  Melatih untuk kita meningkatkan kualitas diri dalam posisi kehambaan yang baik dan benar agar menjadi  ibadurrahman,  memprtebal rasa dan kualitas pemilikan iman sehingga akan mencapai tatanan kehidupan yaitu menjadi orang-orang yang terpelihara (taqwa). Itulah besaranmakna yang terkandung dalam perintah berpuasa

“Ya ayyuhalladzina aamanu qutiba ‘alaladzina min qablikum, la’allakum tattaquun.”

Tegasnya :  berpuasa  akan menjadi medium untuk seorang pelakunya (shaumin) menjadi orang yang taqwa atau terpelihara.

 

Bulan Penuh Ampunan

Ada  sabda Nabi SAW yang amat popular  “ Man shauma Ramadhana iimanan wahtisaban ghufiralahu mataqadda maa min dzambih”  yakni, “ barang siapa berpuasa dibulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan perhitungan maka akan terhapuslah dosa-dosanya yang telah lalu” .  Hadits ini tidak lalu bermaknakan bahwa denga berpuasa itu secara otomatis akan menghapuskan dosa dan kesalahan para shaimin (pelaku puasa), akan tetapi pesan Nabi Saw itu memberi arti yang bersifat majas (khinayah) bahwa dengan melakukan ibadah puasa itu maka seseoarang tidak akan lagi mau melakukan apa yang menjadi kesalahan dan produk perdosaan yang pernah dibuatnya. Ia bertobat dan menyesali kesalahan ataupun kekeliruan yang kadung dilakukan dimasa lalu kenudian ia ber’azam meninggalkanya sejak ia bertobat hingga akhir hayatnya.

Pemaknaan semacam ini, sungguh akan menepis apa yang barangkali menjadi kekeliruan sebagian dari kita yang beranggapan bahwa “ bulan Ramadhan adalah bulan pengampunan dosa”.  Kita tidak mengenal tema atau kelembagaan penghapusan dosa, sebab persoalan pahala dan dosa sungguh –sungguh hanya menjadi kewenangan Allah Swt. Kita yang para hamba-Nya ini sungguh berkewajiban untuk memohon ampun dan bertobat kepada Allah SWT, sedang  perkara dikabulkan atau tidaknya semata-mata menjadi hak Allah, yang akan diketahui disaat kita dikumpulkan ditengah padang mahsyar di yaumil akhir nanti. Yang benar adalah Radhan sebagai bulan bulan penuh ampunan dimana Allah Swt membuka lebar pintu keampunan bagi para hamba melalui perbanyakan amal ibadah..

Lebarkan Pintu Maaf

Menyambut Ramadhan, bukalah pintu hati ini untuk kita mau saling memaafkan dalam suasana kemaafan yang sebenar-benarnya, bukan maaf yang hanya tertutur dimulut berbalut senyum manis, yang kesemuanya hanyalah bentuk keseolah-olahan. Tetapi hendaklah maaf yang benar terucap dari dalam lubuk hati yang paling dalam, untuk memaafkan sesame demi membangun silaturrahim.

Jangan pernah simpan kebencian kepada siapapun, apalagi dengan sesame muslim. Sebab, jangan gara-gara kita jengkel atau marah terhadap seseorang lantaran dia telah melukai hati kita, lalu kita hokum untuk tidak memaafkan atau menutup dada ini dalam ruang kesempitan, yang dengan sikap semacam itu lalu malah menutup pintu rahmat, barokah, dan ampunan dariAllah Swt.  “Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji adalah apabila mereka marah lalu memberi maaf.”  (QS Asyuura 37).

Melalui ibadah puasa itulah kita digembleng untuk berkesadaran diri dan masuk kedalam maqam kehambaan yang sejati, Kita kembali akan terlahir sebagai insane yang sabar,tawakkal, tasamuh, dan pemaaf.

Selamat datang Bulan keberkahan, kita songsong bulan yang didalamnya terkandung makna ibadah kebajikan  “Malam-Seribu-Bulan”(Lailatul-Qadar),  yang menjadi kesempatan mahal untuk kita hadir dan menghadiri majelis-majelis kemuliaan yang digelar dimana-mana dengan berbagai bentuk dan coraknya, kita dating memenuhi undangan Ranadhan untuk bersama bergembira membangun jembatan hati, menghidupkan dan mensyi’arkan dalam semangat ta’abudi demi meraih keampunan dari Allah Swt, dan kita benar-benar termasuk kategori sebagai orang-orang yang menang, yang bersebutan insane mttaqin, Insya Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s