Mengakui Kesalahan

Mengakui kesalahan seringkali dianggap perbuatan bodoh dan menjatuhkan diri sendiri ke dalam kehinaan. Pelakunya dianggap tidak punya harga diri lagi, tidak istiqamah (teguh pendirian), dan tidak memiliki prinsip hidup.

Pendapat itu amat keliru. Mengakui kekhilafan, kesalahan, dan dosa serta bertekad tidak akan mengulangi lagi merupakan perbuatan yang sangat mulia. Islam menamakannya dengan taubat, dan Allah sangat menyayangi orang yang benar-benar bertaubat. Dalam Alquran dikatakan, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang menyucikan diri (QS al-Baqarah [2]: 222).

Semua manusia pernah melakukan kesalahan, Nabi sekalipun. Karena lupa, khilaf, dan salah sangat melekat pada kedirian manusia. Dan, tindakan tidak mau mengakui kesalahan dan berusaha memperbaikinya merupakan hal yang paling aneh.

Sebenarnya, mengakui kesalahan merupakan sebuah pintu dari dinding pembatas antara dua ruangan; kebaikan dan keburukan. Jika seseorang tidak mau mengakui salahnya, berarti dia masuk dari pintu itu ke ruangan kejahatan. Sebaliknya, jika seseorang mau mengakui dosanya, berarti dia membuka pintu itu untuk masuk ke ruangan kebaikan.

Allah sendiri mengatakan bahwa salah satu ciri orang-orang bertakwa adalah mau mengakui kesalahan dan minta ampun kepada Allah, kemudian dia tidak lagi mengulanginya, Dan (salah satu dari orang yang bertakwa itu) adalah orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu (QS Ali Imran [3]: 135).

Mengaku bersalah tidak membuat seseorang kehilangan kehormatan, bahkan sebenarnya merupakan upaya paling efektif menyelamatkan nama baik. Menyadari dosa dan bertekad tidak akan mengulangi lagi adalah salah satu pintu masuk menjadi manusia terbaik. Itulah yang dilakukan oleh para sahabat Nabi yang umum telah berbuat kejahatan di masa lalu.

Orang yang tidak mau mengakui kejahatannya berarti menjeratkan dirinya pada mata rantai dosa yang tiada berujung. Perbuatan menutupi kesalahan pasti akan diikuti dengan usaha menghilangkan barang bukti, dengan cara apa pun. Bisa jadi hal itu dilakukan dengan berdusta, memfitnah, menyuap, meneror, bahkan membunuh sekalipun. Jika usaha menghilangkan bukti ini membuahkan bukti baru, misalnya diketahui orang lain, maka bukti baru itu juga harus dilenyapkan. Begitulah seterusnya. Tak dapat dibayangkan berapa banyak dosa turunan yang harus dikerjakan.

Orang bersalah akan terus diburu kesalahannya. Hanya taubat yang membuat semua itu berakhir. Bagi pelaku dosa, dunia menjadi semakin sempit dan tidak ada tempat yang nyaman. Memang tidak enak hidup dalam kurungan yang dibikin sendiri. Wallahu a’lam bis shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s